Biografi KH Ahmad Dahlan Pendiri Organisasi Muhammadiyah

4/21/2017

Di sebuah Pondok Pesantren di Yogyakarta, seorang Kyai sedang menunggu para santrinya mengerjakan tugas yang baru saja ia berikan. Selang berapa lama, para santri itu berkumpul kembali pertanda tugas sudah usai dikerjakan.

“Apakah kalian sudah mengerti pesan yang tertulis dalam surah ini?” tanya sang kyai. “Alhamdulillah sudah kyai,” sahut salah seorang santri.

“Lalu bagaimana isi pesan itu?” tanya kyai lagi. Santri yang tadi menjawab langsung melantunkan bacaannya yang bagus atas surah al-Maa’un. “Aroaita-l-ladzii yukadzibu biddiin. Fadzaalika-l-ladzi yadu’u-l-yatiim. Tahukan kamu orang-orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim,” tutur santri tersebut dengan suara yang merdu. Ia meneruskan bacaannya sekaligus terjemahannya dengan sangat fasih.

Biografi KH Ahmad Dahlan Pendiri Organisasi Muhammadiyah

“Coba kamu?” kata sang kyai menunjuk sendiri yang lain. Santri itu mengulangi apa yang diucapkan santri pertama. Demikianlah seterusnya, beberapa santri yang lain mendapat pertanyaan serupa dan jawabannya pun sama.

Sang kyai tak lagi meneruskan pertanyaannya. Ia berkesimpulan semua santri akan berbuat serupa. “Kalian ternyata belum mengerti apa jawabannya. Kalian cuma hapal. Mengerti dan hapal itu berbeda.” Katanya dengan intonasi lembut. “Apakah kalian telah melaksanakan apa yang dikandung dalam surah al-Maa’un ini?” tanya kyai itu lagi.

Mendengar ucapan itu, para santri tersadar atas kelalaian mereka selam ini. Maka, keesokan harinya, para santri mengumpulkan pengemis dan orang-orang miskin di Alun-alun Yogyakarta. Mereka diberi makan dan keperluan-keperluan lain. Demikian seterusnya hari demi hari para fakir miskin dan anak yatim itu disantuni, hingga berdirilah sebuah pantai asuhan.

Siapa kyai kharismatik itu? Tak lain, dia adalah Kyai Haji Ahmad Dahlan, tokoh pendiri Muhammadiyah, salah satu organisasi massa terbesar di Indonesia. Bagi anggota Muhammadiyah, dialog ini sudah tak asing lagi. Mereka menganggap begitu penting peristiwa tersebut karena di dalamnya terkandung pesan yang sangat dalam maknanya. Bahwa, agama tak cuma harus dipahami, tetapi juga harus diamalkan.

Muhammadiyah

Ahmad Dahlan, yang memiliki nama asli Muhammad Darwis, lahir di Kauman, Yogyakarta, 1 Agustus 1868. Ia anak keempat dari KH Abu Bakar.

Semasa kecil Darwis sudah belajar agama dan bahasa Arab. Pada tahun 1888, ia disuruh orang tuanya menunaikan ibadah haji. Selepas berhaji, ia tak segera pulang melainkan menetap di Mekah selama lima tahun untuk belajar ilmu agama, seperti qira’at, tafsir, tauhid, fikih, tasawuf, ilmu mantik, dan ilmu falak. Pada 1902 darwis kembali ke kampungnya, Kauman Yogyakarta, dan berganti nama menjadi Haji Ahmad Dahlan.

Satu tahun kemudian Dahlan kembali ke Mekah untuk meneruskan belajar Islam selama tiga tahun. Kali ini ia banyak berguru kepada Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabau. Di samping itu ia juga tertarik pada pemikiran Ibnu Taimiyah, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Ridha. Di antara kitab tafsir yang menarik hatinya adalah tafsir al-Manar.

Dari tafsir ini ia banyak mendapat inspirasi untuk memperbaiki akhlak kaum Muslim dan pemikiran mereka tentang Islam. Di antaranya, persepsi masyarakat tentang penyakit TBC. Masyarakat menganggap penyakit itu erat kaitannya dengan hal-hal ghaib yang bisa membawa mereka pada tahayul, bid’ah, dan khurafat. Gerakan pembaruan inilah yang kemudian dikenal dengan Muhammadiyah.

Sebelum mendirikan organisasi Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan sempat menjadi tenaga pengajar di sekolah Kweek School (sekolah raja), Jetis, Yogyakarta, dan Opleiding School Voor Inlandsche Abtenaren (OSVIA, sekolah pendidikan untuk pegawai pribumi) di Magelang. Sambil mengajar ia juga berdagang dan bertablig.

Sembari mengajar ia juga berupaya memperbaiki akidah umat seperti meluruskan shaf shalat di berbagai masjid, termasuk Masjid Agung Yogyakarta. Upaya ini bukannya tanpa hambatan. Misalnya, saat hendak meluruskan shaf Masjid Agung, penghulu Keraton Yogyakarta yang waktu itu dijabat oleh KH Muhammad Chalil Kamaluddiningrat menentangnya.

Karena tak mungkin mendapat izin dari penghulu, secara diam-diam Dahlan dibantu para santrinya, pada suatu malam, meluruskan shaf masjid, ia memberi tanda garis putih.

Keesokan harinya, setelah sang penghulu tahu ada coretan di dalam masjid tersebut, ia langsung memanggil Dahlan untuk dimintai pertanggungjawabannya. Tak hanya itu, Dahlan juga diturunkan jabatannya sebagai khatib masjid tersebut.

Keinginan Dahlan untuk melakukan pembaruan positif tak mengendur meski mendapat pertentangan di sana-sini. Ia terus saja dengan keyakinannya meskipun sebagian ulama menganggapnya telah menyimpang dari ajaran Islam. Misalnya, memberi pengajian kepada Muslimat dan membolehkan wanita keluar rumah selain untuk mengaji.

Dakwak Dahlan tak hanya menyentuh masyarakat awam, tetapi juga anggota perkumpulan Budi Utomo, satu-satunya organisasi yang ditata secara modern pada waktu itu. Rupanya, anggota Budi Utomo banyak yang tertarik dengan ajaran yang dibawa Ahmad Dahlan. Mereka menganggap apa yang disampaikan Ahmad Dahlan sangat positif. Begitu juga dengan Jama’iat Khair. Mereka juga setuju dengan apa yang diungkap Ahmad Dahlan.

Setelah Sarekat Islam berdiri pada akhir 1911 di Solo, Dahlan langsung bergabung di dalamnya. Di Sarekat Islam ini Dahlan pernah menjabat pengurus Komite Tentara Kanjeng Nabi Muhammad.

Pada 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330), atas dorongan murid-murid dan teman-temannya. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Pengurusnya antara lain Abdullah Siradj (penghulu), Haji Ahmad, R Haji Sarkawi, Rh Djaelani, dan Haji Anis.

Dahlan juga mengajukan permintaan Rech Persoon (badan hukum) atas Muhammadiyah kepada Gubernur Jenderal Belanda di Jakarta. Permintaan ini baru dikabulkan pada 22 Agustus 1914 dengan surat ketetapan Gouvernement Besluit No 81 tertanggal 22 Agustus 1914. Dalam surat izin tersebut ditentukan bahwa Muhammadiyah diizinkan hanya untuk daerah Yogyakarta dan izin hanya berlaku selama 29 tahun.

Setelah Muhammadiyah berdiri, cobaan mulai berdatangan. Tak hanya dari masyarakat yang menilainya terlalu berani melakukan perubahan, namun juga dari keluarganya sendiri yang menganggap Dahlan sudah tersesat dengan mendirikan agama baru yang menyalahi Islam.

Ada pula yang menuduhnya kyai palsu atau kyai kafir karena karena meniru cara-cara barat. Misalnya, Ahmad Dahlan telah mengadopsi sistem sekolah Belanda dengan memakai kursi dan meja. Padahal, kebiasaan di pesantren, para santri duduk di tikar bersama kyainya. Bahkan ada pula yang ingin membunuhnya.

Lama kelamaan tuduhan-tuduhan itu sedikit demi sedikit mulai terkikis, berganti dengan dukungan setelah Ahmad Dahlan dengan sabar menjelaskan argumennya akan konsep pembaruan tersebut. Bahkan, dalam perkembangannya berdiri “anak-anak” organisasi Muhammadiyah, seperti ‘Aisyiyah (yang mengurus masalah wanita), Pemuda Muhammadiyah (masalah kepemudaan), Nasyi’atul ‘Aisyiyah (masalah keputrian), IMM (mahasiswa) sampai organisasi bela negara seperti Hizbul Wathan (yang salah satunya didikannya adalah Jenderal Sudirman) dan Tapak Suci.

Menariknya, Muhammadiyah tak memiliki satu madzhab. Mereka punya semboyan kembali ke al-Qur’an dan hadits. Sehingga di dalam tubuh organisasi Muhammadiyah ada Majelis Tarjih yang bertugas memilah-milah hadits mana yang shahih atau dhoif. Majelis ini pula yang mengeluarkan fatwa tentang hal-hal baru yang timbul di masyarakat.

Previous
« Prev Post
Add CommentHide

Back Top