Dilema Mengajak Anak Ke Masjd

Sebut saja nama Ali dan Umar. Keduanya masih berusia tujuh tahun. Keduanya juga rajin ikut shalat berjamaah di masjid. Cuma masalahnya, setiap kali shalat sudah dimuali, keduanya masih bermain senggo-senggolan di antara para makmum. Sesekali Ali menyolek atau memukul Umar. Si Umar pun membalasnya. Mereka juga sesekali bersuara agak keras, bahkan kadang berlarian di depan para jamaah.

Terang saja, kekhusyukan para jamaah terganggu. Tapi di sisi lain, mereka itu masih anak-anak. Mereka tak mengerti bahwa tingkah polah seperti itu akan mengganggu orang lain. Mereka juga tak menyadari bahwa masjid bukan tempat bermain.

Dilema Mengajak Anak Ke Masjd

Kejadian seperti itu sering terjadi di hampir semua masjid. Tak jarang pengurus masjid harus bersuara keras, menghardik, mengancam, bahkan kadang-kadang memukul dan menjewer telinga si anak, agar mereka tak berpolah seperti itu. Lalu, apakah cara seperti ini efektif untuk mendidik anak? Atau, malah bisa membuat mereka takut datang ke masjid, bahkan lama kelamaan mereka akan jauh dari masjid? Bagaimana seharusnya orang tua membimbing anak-anak agar gemar shalat berjamaah di masjid namun tak mengganggu kekhusyukan jamaah lainnya?

Para orang tua hendaknya menanamkan pengertian yang benar kepada anak mengenai niat dan tujuan shalat di masjid sebelum mereka dibawa ke sana. Harus diakui memang sulit medidik anak yang masih kecil agar cinta dengan masjid sekaligus tak mengganggu jamaah yang lain.

Anak ikut berjamaah di masjid, bisa karena diajak oleh orang tuanya, bisa juga karena diajak oleh teman-teman sebayanya. Tipe pertama telatif lebih mudah diatur. Jika mereka rebut atau gaduh, petugas masjid tinggal meminta pengertian kepada orang tua si anak untuk menasihati anaknya.

Namun tipe kedua, sulit diatur. Mereka datang ke masjid dengan cara bergerombol. Biasanya mereka datang ke masjid menjelang Magrib atau pada bulan Ramadhan. Satu saja dari mereka yang bertingkah, maka yang lain akan ikut-ikutan. Semakin lama akan semakin gaduh. Hal ini yang terkadang membuat takmir masjid tak sabar.

Sebenarnya, mengajarkan anak agar cinta masjid bisa dilakukan ketika tidak dalam keadaan shalat berjamaah. Si ayah bisa mengajak anaknya pergi ke masjid ketika tidak sedang ada kegiatan. Bisa juga mengajak anak ketika sedang berlangsung pengajian di masjid di mana anak-anak relatif bisa dikontrol.

Jadi, sebelum anak diajak shalat berjamaah di masjid, para orangtua harus yakin betul bahwa si anak sudah siap, tak akan bikin gaduh dan tak akan mengganggu kekhusyukan jamaah lain. Jika belum yakin, maka buatlah kesepakatan misalnya, katakana, “ayah akan mengajak kamu ke masjid jika kamu janji tak akan rebut.” Kesepakatan tersebut harus disertai sanksi jika dilanggar.

Sanksi itu pun harus ditegakkan secara tegas agar anak tahu kalau kita serius. Tentu saja sanksi tidak boleh memberatkan anak. Sifat sanksi harus mendidik, bukan dengan pukulan yang menyakirkan.

Pengarahan kepada anak agar tak bermain saat di masjid harus dilakukan sebelum ia diajak ke masjid. Pengarahan harus menjadi bagian dari tata cara shalat. Pengarahan meliputi, antara lain, tak boleh lewat di depan orang shalat, tidak boleh berisik, atau bergerak selain yang diajarkan dalam shalat.

Lalu, kapan anak-anak sudah bisa diberi arahan? Pada usia 7 sampai 10 tahun. Sebab, jika usia anak di bawah 7 tahun pengarahan akan sulit dilakukan. Pada usia tersebut anak terlalu belia. Hal ini mengacu pada hadis yang diriwayatkan Amru bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat pada usia 7 tahun. Dan pukullah pada usia 10 tahun. Dan pisahkan mereka (anak laki-laki dan perempuan) pada tempat tidurnya.” (HR Abu Daud)

Jadi kalau kita mengacu pada tersebut, maka kita bisa mengambil pelajaran bahwa mengajak anak kecil ke masjid secara terprogram sebenarnya efektif mulai usia 7 tahun.

Di sinilah, rahasia mengapa anak usia 7 tahun dianjurkan untuk shalat. Ternyata memang sulit mengatur anak-anak untuk tertib jika usianya masih terlalu belia, terutama tertib di dalam masjid.

Memang ada juga anak balita yang bisa dengan mudah diatur atau diarahka. Namun jumlahnya tak banyak. Kebanyakan anak usia di bawah tujuh tahun justru sulit menyerap pelajaran yang sifatnya amalan. Ini wajar, sebab mereka memang belum mencapai usia tamyiz. Mereka huga tak bisa membedakan mana yang baik dan tidak baik.

Mengenai aturan membawa anak ke masjid, boleh-boleh saja, bahkan sangat dianjurkan untuk mendidik mereka. Tapi kalau setiap hari, apalagi sampai mengganggu kekhusyukan dalam berjamaah, sebaiknya dikaji ulang dan dibicarakan dengan sesama jamaah secara baik-baik. Sebab, shalat di masjid itu ada adabnya. Adab ini tak boleh disepelekan oleh semua jamaah.

Previous
« Prev Post
Add CommentHide

Back Top