Mengelola Konflik Secara Proaktif

Mengelola Konflik Secara Proaktif - Konflik adalah sesuatu yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari kehidupan keluarga, sosial, hingga kehidupan kerja, seseorang sering berhadapan dengan konflik dalam berbagai bentuk. Ada yang mengalaminya pada skala yang lunak dalam hal perbedaan pendapat, hingga konflik yang lebih keras.

proactive conflict management

Pengelolaan konflik adalah sebuah proses, dan tidak ada ramuan khusus yang bisa diterapkan ketika sebuah konflik terjadi. Yang bisa kita lakukan adalah melihat anatomi dan sebab-sebab mengapa konflik terjadi, dan melakukan berbagai tindakan berdasarkan analisis tersebut. Namun demikian, resolusi terhadap suatu konflik adalah proses yang terus berlangsung, di mana dinamika pengelolaannya juga sangat mungkin berubah dari waktu ke waktu.

Ada tiga hal utama yang menjadi sumber konflik, pertama, kepentingan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Kedua, perbedaan pemahaman karena komunikasi ataupun sebab lain. Ketiga, karena perbedaan kepercayaan ataupun keyakinan.

Perbedaan kepentingan menjadi sebab yang paling umum dalam sebuah konflik. Dengan latar belakang budaya dan lingkungan masing-masing, setiap orang mempunyai kepentingan terkait dengan diri sendiri, keluarga, daerah dan berbagai ikatan lainnya. Ikatan-ikatan sepertin ini biasanya akan menyatu dalam diri seseorang yang dibawa ke mana-mana. Dan ketika bertemu dengan orang yang mempunyai kepentingan berbeda, menjadi sumber awal terjadinya konflik.

Sebab kedua terjadinya konflik kerena perbedaan pandangan atau pemahaman terhadap suatu isu atau masalah yang sedang dihadapi. Terkait dengan kepentingan, biasanya seseorang memandang suatu masalah dari sudut pandang sendiri. Namun di saat lain bisa memandangnya dari sudut pandang berbeda, yang potensial menimbulkan perbedaan. Ketika perbedaan itu semakin manajam, menjadi alamat awal terjadinya konflik.

Penyebab konflik yang ketiga adalah perbedaaan kepercayaan dan keyakinan. Kepercayaan dan keyakinan menyangkut masalah hati yang biasanya menginternal dalam perilaku sehari-hari. Perbedaan keyakinan akan menyebabkan perbedaan sikap dan pandangan terhadap persoalan. Praktis, ketika ada persoalan yang menguat, akan terus terjadi perbedaan pandangan yang signifikan yang bisa membesar menjadi konflik.

Lalu, bagaimana mengurai konflik? Pertanyaan ini penting, karena perbedaan itu hampir selalu ada pada setiap orang. Karena itulah, potensi konflik juga semakin terbuka.

Untuk mengurai suatu konflik, yang dilakukan biasanya adalah mengumpulkan fakta dan informasi mengapa konflik terjadi serta mencari akar permasalahannya. Kadang terjadi, sebuah konflik membesar hanya karena perbedaan cara pandang terhadap satu masalah yang sebenarnya secara isi dan substansi mempunyai titik kepentingan yang sama.

Jika akar permasalahan sudah diurai, yang perlu disentuh adalah ego masing-masing pihak yang telibat konflik. Sentuhan terhadap ego bisa dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya menyentuh akar historis bahwa mereka dulu adalah dua pihak yang bersatu dan saling menghormati.

Benang merah dari semua konflik adalah macetnya komunikasi dari pihak-pihak yang terlibat. Karena itu sangat penting ketika kita ingin mengurai akar permasalahan, pihak-pihak yang terlibat dalam konflik diajak berbicara dan berkomunikasi satu sama lain. Dengan saling memahami kebutuhan dan kepentingan masing-masing pihak, konflik akan lebih mudah diselesaikan.

Pada perkembangannya, orang kemudian mencari cara mengelola konflik justru sebelum konflik terjadi. Pengelolaan inilah yang kemudian disebut sebagai “proactive conflict management”, sebuah upaya mengenali konflik bahkan sebelum konflik itu terjadi.

Inti dari pengelolaan konflik secara proaktif adalah membuat aturan dan mengondisikan lingkungan kita agar sedapat mungkin terhindar dari benturan kepentingan mendasar. Benturan kepentingan ini memang tidak mungkin dihilangkan seratus persen, tetapi yang perlu dilakukan adalah mengantisipasi agar kepentingan masing-masing bisa diakomodasi dengan baik.

Secara sederhana, seperti terlihat dalam gambar di atas, pengelolaan konflik secara proaktif dimulai dari pengumpulan data dan informasi mengenai seluruh pihak yang berada dalam satu kelompok atau organisasi . dari situ, kepentingan masing-masing sedapat mungkin di ketahui dan dipetakan.

Dengan saling memahami kepentingan dan kebutuhan masing-masing diharapkan akan tercipta saling pengertian dan kesepahaman. Mungkin akan tetap terjadi perbedaan, tetapi bisa diarahkan untuk saling berkompetisi dalam kerangka yang positif dan membangun. Jika kita bisa mengubah konflik menjadi energi yang positif, hal ini akan sangat membantu proses peningkatan produktivitas dan kreativitas.

Peran Penengah Dalam Proactive Conflict Management

Setiap konflik, di manapun dan bagaimanapun bentuknya, selalu memerlukan penengah (mediator) untuk mendamaikannya. Jika mediator mampu menguasai masalah, atau hal yang menjadi penyebab (sumber) konflik, maka ia akan dengan mudah mengambil peran. Namun, karena perkembangan dan perubahan masyarakat, masalah-masalah sosial tidak bisa lagi didekati dengan cara pandang asal-asalan, maka peran mediasi sangat sulit dilakukan. Peran tersebut menjadi semakin sulit dilakukan, pada saat juru damai mempunyai kepentingan dan atau menjadi bagian dari konflik.

Konflik sebenarnya adalah bagian dari adanya perbedaan, atau pertentangan, perselisihan, antar dua orang, antar kelompok, atau antar orang dengan kelompok. Konflik adalah segala interaksi pertentangan antar-dua pihak. Konflik sudah menjadi bagian alami dari pergaulan sosial. Oleh karena itu konflik mesti akan terjadi dalam hubungan sosial antar-orang atau organisasi.

Komponen atau hal yang terdapat dalam konflik terdiri dari kepentingan, emosi, dan nilai. “Kepentingan” adalah sesuatu yang mendasari motivasi. Sedangkan “emosi” menyangkut perasaan. Dan, “nilai” adalah kedalaman pikiran dan perasaan yang tidak bisa dilihat. Nilai melandasi visi dan misi organisasi atau kelompok.

Konflik yang menyangkut “kepentingan”, akan dengan mudah dikomunikasikan, diambil jalan tengah dan dicarikan solusinya. Namun jika konflik itu sudah menyangkut “nilai”, maka akan sangat sulit untuk dicarikan jalan keluar. Bahkan, hanya untuk mempertemukan atau mengomunikasikan persoalan konflik kepada pihak-pihak yang berseteru pun sangat sulit. Hal ini dikarenakan “nilai” merupakan latar belakang dari visi dan misi organisasi. Karena itu setiap juru damai memerlukan kejelian dan kemampuan dalam mengidentifikasi komponen konflik agar ia bisa menentukan langkah-langkah menajemen konflik.

Fungsi dan peran tokoh masyarakat, tokoh agama, sebagai juru damai untuk menyelesaikan konflik antar kelompok dalam masyarakat sangatlah strategis. Kemampuan tokoh masyarakat dalam memahami nilai, kepentingan, dan dinamika masyarakat, tidak diragukan lagi. Fungsi ini hendaknya dibarengi dengan kemampuan untuk mengidentifikasi konflik, kemampuan komunikasi sosial, dan analisa masalah, agar ia mudah mengarahkan dan mengelola konflik.

Dalam konteks pertentangan antra dua organisasi, maka konflik cenderung dikompromikan. Suatu titik tengah antara “Menghindar-Bersaing” dengan “Berkolaborasi-Mengakomodasi”. Dengan demikian konflik dapat selalu dicari jalan keluar untuk dimanfaatkan dalam dinamika antar-dua organisasi. Jika kita tidak kooperatif dan tidak tegas, maka saat terjadi konflik kita akan cenderung menghindar. Sebaliknya jika kita kooperatif tetapi tidak tegas, maka kita akan mengakomodasikan; meletakkan kepentingan pihak lain di atas kepentingan kita. Jika kita tegas dan koopertif, maka kita akan berkolaborasi ; semua kepentingan terwadahi.

Konflik bisa menyebabkan pertikaian. Bahkan bisa menimbulkan peperangan antara dua negara. Pertikaian bisa terjadi jika jalan keluar yang diambil adalah berupa bersaing/persaingan -kepentingan satu kelompok dimaksimalkan tanpa memedulikan kelompok lain. Dari sinilah terjadinya perebutan kepentingan, perebutan sumberdaya, perebutan pengaruh dalam masyarakat, dan perebutan alat-alat komunikasi dengan masyarakat.

Jika konflik telah menjelma menjadi pertikaia, maka yang bisa dilakukan pendamai adalah menyamakan nilai yang bisa menjadi pegangan antar pihak untuk bersaing atau bertikai. Secara teknis langkah-langkah yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut:

  • Menetapkan situasi menang-kalah
  • Meningkatkan sportivitas persaingan
  • Meningkatkan disiplin bertikai
  • Menggunakan kekuasaan untuk menyelesaikan konflik

Jurus terkahir ini hanya dilakukan jika situasi “menang-kalah” tidak bisa berhenti dan menjurus kepada pertikaian tidak sehat dan tidak sportif.

Konflik adalah perbedaan, perselisihan, yang diisyaratkan akan adanya hikmah, manfaat di dalamnya. Namun, jika konflik telah menyangkut perbedaan yang mendalam, perbedaan nilai misalnya, maka sangat sulit mencari manfaatnya. Karena itu, para juru damai atau pihak yang potensial menjadi penengah, harus mempunyai kemampuan manajemen konflik.

Previous
« Prev Post
Add CommentHide

Back Top