Hasan al-Banna Dikubur Seorang Diri Oleh Sang Ayah

2/19/2015

“Kupersembahkan jiwa ini ke hadirat Allah dan Dia pula yang akan memberi keselamatan. Inilah perjanjian antara Allah dan hamba-Nya yang kucatat di sini, dengan guruku sebagai saksi. Apa pun tak bisa mempengaruhi kecuali nurani. Siapa pun tak bisa menebusnya kecuali Tuhan. Hanya mereka yang memenuhi janjinya kepada Allah berhak menerima imbalannya.”

Hasan al-Banna Dikubur Seorang Diri Oleh Sang Ayah

Inilah ungkapan tokoh Islam, Hasan al-Banna, yang mengantar ia menjadi pejuang Islam terkemuka. Uangkapan ini pula yang mengantar pendiri gerakan Ikhwan al-Muslimin ini syahid dengan kondisi mengenaskan: Jenazahnya tak boleh dilihat, disholatkan, bahkan dikuburkan oleh siapa pun kecuali sang ayah yang sudah berusia 90 tahun.

Gerakan Ikhwan al-Muslimin saat itu begitu ditakuti pemerintah Mesir di bawah rezim dictator al-Malik Faruq bersama penjajah-penjajah salibi: Inggris, Perancis, dan Amerika.

Cerita kematian Hasan al-Banna begitu memilukan hati. Betapa tidak, ia dijebak lalu ditembak. Saat itu, di awal tahun 1947, pihak kerajaan Mesir meminta agar al-Banna bersedia berunding demi mengendurkan konflik antara al-Ikhwan dan pemerintah. Al-Banna bersedia. Lalu, tepat pada 12 Februarui 1949 jam 17.00 pihak kerajaan datang menjemput al-Banna dan membawanya ke kediaman salah satu pejabat Jam’iyyah al-Syubban al-Muslimin. Al-Banna sendiri ditemani iparnya Abdul Karim Mansur.

Sesampai di kediaman pejabat tersebut mereka menunggu Menteri Zaki Ali Basya yang direncanakan bakal datang mewakili pihak kerajaan. Namun, lama ditunggu, sang pengundang tak kunjung tiba.

Akhirnya, setelah menunaikan shalat Isya’. Al-Banna dan sepupunya memanggil taksi untuk pulang ke rumah. Ketika naik taksi, dua orang tak dikenal tiba-tiba muncul dan salah seorang dari mereka melepaskan beberapa tembakan ke taksi. Tujuh peluru bersarang dibadan al-Banna.

Meskipun badannya terluka dan darah menguncur deras, pahlawan Ikhwan al-Muslimin ini masih mampu bertahan dan berjalan masuk kembali ke kediaman pejabat Jam’iyyah al-Syubban al-Muslimin. Ia juga sempat memanggil ambulan dan pergi ke rumah sakit Qasral ‘Aini. Sedangkan iparnya syahid saat itu juga dalam taksi.

Peristiwa tragis ini menyebar dalam waktu singkat, bahkan ke seluruh penjuru dunia. Para pengikut setia sang imam yang ingin berjaga-jaga di rumah sakit dihalau oleh militer. Malah, Jenderal Muhammad al-Jazzar melarang siapa saja yang ingin membesuk al-Banna. Pengawalan diperketat, tak seorang pun bisa masuk ke rumah sakit meskipun hanya sekedar melihat-liht kondisi sang Imam.

Akhirnya, pukul 00.50 12 Februari 1949. Pejuang tangguh ini menghembuskan nafasnya yang terakhir, dipanggil menghadap-Nya.

Pada pukul 01.00 pihak kepolisian menyampaikan berita duka atas kematian al-Banna kepada ayahnya, Syeh Ahmad Abdur Rahman, sekaligus memberikan dua pilihan. Pertama, pihak kepolisian akan mengantarkan jenazah ke rumahnya untuk dikebumikan pukul 09.00 tanpa diikuti oleh seorang pun kecuali ayahnya sendiri. Kedua, jika tidak menerima tawaran pertama ini pihak kepolisian sendiri yang akan membawa jenazah dari rumah sakit ke pekuburan tanpa dilihat oleh ayahnya.

Sang ayah menerima pilihan pertama. Sebelum fajar menyingsing, jenazah as-Syahid dibawa ke rumahnya di Hilmiah al-Jadid dengan sebuah kereta yang dikawal ketat oleh polisi lengkap dengan senjata. Di sekitar rumahnya juga terdapat polisi dan tentara. Mereka tidak membolehkan siapa pun berada di dekat kawasan tersebut. Jenazah as-Syahid dibawa masuk ke rumahnya tanpa ada orang yang melihat, bahkan tak ada pula yang tahu khabar kesampaiannya.

Ayah al-Banna berusia lebih dari 90 tahun, meskipun tubuhnya sudah sangat renta, tetap tegar melihat kondisi putranya yang penuh luka bekas tembakan. Guyuran air ia alirkan ke tubuh al-Banna yang membujur kaku dengan penuh kesabaran dan bangga. Ia juga mengkafani jenazah yang baru berusia 43 tahun itu seorang diri dengan pengawalan polisi yang sangat ketat.

Setelah diletakkan di atas pengusung jenazah, Sheikh Ahmad Abdur Rahman meminta kepada pihak kepolisian agar membolehkan beberapa orang membantunya mengusung jenazah. Namun, polisi hanya membolehkan kaum wanita untuk membantu Sheikh. Tak boleh ada siapa pun yang bertakziah, apalagi membaca al-Quran untuk jenazah.

Ayah al-Banna tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Beliau dengan tiga orang wanita terpaksa mengusung jasad anaknya menuju ke Masjid al-Qaisun untuk disholatkan. Di sini pun tak ada orang yang ikut shalat karena para polisi yang ponggah itu sudah lebih dulu mengusir jamaah yang ada di dalam masjid. Sang ayah seorang diri membaringkan jasad putranya, lalu menunaikan shalat jenazah untuk putra tercintanya.

Masa-masa sepeninggal Hasan al-Banna adalah masa penuh cobaan bagi umat Islam di Mesir. Banyak murid beliau yang disiksa, dijebloskan ke penjara, bahkan dihukum mati, terutama ketika Mesir diperintah oleh Jamal Abdul Naseer, seorang dictator yang condong ke Sovyet. Banyak pula murid baliau yang terpaksa mengungsi ke luar negeri, bahkan Eropa. Namun pengungsian bagi mereka bukanlah suatu yang disesali. Bagi mereka di mana pun adalah bumi Allah, di mana pun adalah lahan dakwah. Para pengamat mensinyalir, dakwah Islam di Barat tidaklah terlepas dari jerih payah mereka. Demikianlah, siksaan, tekanan, pembunuhan tidak akan memadamkan cahaya Allah. Bahkan semuanya seakan-akan menjadi penyubur dakwah itu sendiri, sehingga dakwah Islam makin tersebar luas.

Secara umum, Hasan al-Banna merupakan seorang pejuang yang gigih dan berani, berjaya menyadarkan masyarakat dengan fikrah dan pendekatan barunya dalam gerakan dakwah dan manhaj tarbiahnya yang sempurna. Walaupun beliau telah pergi menemui Ilahi, namun fikiran dan gerak kerjanya masih menjadi rujukan dan pegangan pejuang-pejuang dan harakah Islamiah hari ini.

Previous
« Prev Post
Add CommentHide

Back Top