Ulasan Kenapa Silaturahmi Bisa Membuka Pintu Rezeki

Silaturahmi sebagai amalan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya dilakukan dengan bertemu atau saling mendoakan. Sesuai dengan maknanya, shilat yang berarti menghubungkan dan rahim yang berarti kasih sayang. Bagi orang Mukmin, silaturahmi adalah sebuah keniscayaan. Ia berkomunikasi dengan orang lain, masyarakat, dan lingkungannya.

Silaturahmi Memperluas Rezeki Dan Umur Panjang

Silaturahmi juga bisa dikatakan sebagai kunci surga. Rasulullah bersabda, “Budayakanlah ucapan salam, kemudian hubungkan silaturahmi, lakukanlah shalat pada malam hari. Jika kalian amalkan itu semua, maka akan masuk surga.” Jadi silaturahmi bagian yang sangat penting dalam kehidupan.

Silaturahmi juga ditegaskan dalam beberapa ayat al-Qura’an dan Hadis. Dalam surah an-Nisa ayat pertama, dengan penegasan silaturahmi sebagai ajang kekeluargaan. “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya: dari keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah, yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan kerabat. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Itu bagian dari ketakwaan kita kepada Allah. Artinya seseorang tidak akan dikatakan takwa sebelum melakukan silaturahmi. Jadi orang yang silaturahmi adalah mereka yang optimis hidupnya. Banyak kawan banyak saudara. Sebagai salah satu pengabdian manusia. Dengan banyak bertemu, akan membuat sebuah networking. Kita melihat networking adalah pengembangan makna luas dari silaturahmi. Dan kalau kita sudah masuk pada jaringan kerja, berarti akan menghasilkan rezeki. Jadi optimis dengan saling mendoakan bisa menumbuhkan ketenangan hidup, selanjutnya memperpanjang usia kita.

Tentu saja itu hanya sebuah dorongan saja, bukan berarti umur kita bertambah dari 60 menjadi 70 tahun. Tetapi maknanya, ketika silaturahmi sering memberikan kebaikan pada orang lain. Sebab tidak mungkin bersilaturahmi kemudian tidak memberikan manfaat bagi diri kita dan orang lain. Itulah pentingnya silaturahmi dalam Islam. Silaturahmi akan menghapus permusuhan. Sebab ada berbagai macam cara untuk menimbulkan permusuhan, terutama orang-orang yang benci terhadap Islam. “Maukah aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya dari pada shalat dan shaum?” tanya Rasulullah kepada para shahabatnya. Rasulullah kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan mereka yang bertengkar, menyambung persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam dan mengukuhkan ukhuwah di antara mereka adalah amal shaleh yang besar pahalanya. Barang siapa yang ingin diperpanjangkan usianya dan diperbanyak rezekinya, hendaklah ia menyambung persaudaraan.” (HR Bukhari Muslim).

Silaturahmi juga salah satu pembuka rezeki. Artinya dengan memperbanyak silaturahmi berarti memperbanyak kenalan. Dengan banyak kenalan akan memudahkan jaringan ekonomi dan bisnis. Networking merupakan bagian penting dalam bisnis. Dan ternyata networking dalam Islam sendiri adalah silaturahmi. Selain itu aktivitas silaturahmi akan mendatangkan rezeki yang tidak disangka-sangka kepda siapa pun yang melakukannya. Misalnya dari obrolan santai, akan berlanjut kepada urusan bisnis dan kerjasama. Inilah silaturahmi yang berbuah memperluas rezeki. Tentunya ini tidak lepas dari niatan yang ikhlas mengharap keridhaan Allah.

Jadi pantas kalau silaturahmi itu suatu amalan yang diperintahkan junjungan Nabi SAW. Silaturahmi yang baik ialah tidak dimotivasi oleh tujuan sesaat. Kalau itu dilakukan, silaturahmi akan cepat putus. Silaturahmi bisa dilakukan tetapi tidak untuk kepentingan dan bukan bersifat pragmatisme. Kalau menghubungkan silaturahmi dengan tujuan menggolkan seseorang untuk menjadi presiden, misalnya, itulah silaturahmi yang sangat sesaat, tidak abadi dan tidak berdiri di hadapan Allah SWT.

Atau seseorang yang mau berhubungan dengan lainnya hanya karena maksud tertentu agar ia mendukungnya. Itu juga bukan silaturahmi yang hakiki secara syar’i. Apalagi silaturahmi untuk membuat kesepakatan dalam rangka menjegal seseorang. Maka dalam membangun silaturahmi diperlukan kesabaran ketika menghadapi ujian. Ujian yang paling berat justru saat membangun hubungan baik dengan sesama umat Islam. Allah menyatakan dalam surah al-Kahfi 28, “Sabarkanlah hatimu serta orang-orang yang menyembah Tuhannya pada pagi dan petang, sedang mereka menghendaki keridhaan dari Allah, dan janganlah engkau palingkan pemandangan dari mereka karena menghendaki perhiasan hidup di dunia. Janganlah engakau turut orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami dan mengikuti haea nafsunya.”

Previous
« Prev Post
Add CommentHide

Back Top